Sudah sering kita dengar tentang masalah minat baca masyarakat yang sedemikian rendah. Sering kita dengar pula bahwa anak-anak kita lebih suka melihat para Youtuber dan bermain game di setiap waktu luangnya. Dan komentar yang selalu kita luahkan adalah rasa prihatin dan bagaimana mencari solusi agar minat baca meningkat menuju budaya baca serta anak-anak kita bisa lebih banyak membaca dari pada melihat produk-produk visual.
Sebenarnya bukan saatnya lagi kita membahas masalah, tapi semestinya sudah bergerak dengan aksi nyata. Masih rendahnya minat baca masyarakat terutama anak-anak, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah faktor tuntunan orang tua. Banyak orang tua hanya memerintahkan anaknya untuk belajar atau membaca namun mereka sendiri tidak pernah membaca dan kurang menjadi orang tua yang pembelajar. Kondisi ini diperparah lagi dengan semakin sibuknya para orang tua saat ini yang selain sibuk bekerja, sibuk mengurusi keluarga, juga sibuk selfi dan eksis di media-sosial. Kesibukan orang tua tersebut mengakibatkan hubungan orang tua dengan anak menjadi jauh hingga komunikasi berjalan tidak baik.
Komunikasi yang tidak baik antara orang tua dan anak menimbulkan gaya semi otoriter yang tentunya tidak disukai oleh anak-anak sekarang. Walaupun pada akhirnya orang tua sudah mencontohkan kepada anak-anaknya dengan banyak membaca di rumah, dikarenakan komunikasi berjalan tidak lancar, tentunya anak lebih bersikap antipasti dan enggan mencontohnya. Setidaknya hal ini ditangkap oleh Syahid Muhammad salah satu penulis novel milenial dalam talk show di Perpustakaan Daerah Kabupaten Wonosobo beberapa waktu yang lalu.
Menurut Syahid Muhammad, komunikasi yang intens antara anak dan orang tua akan menjadi sebuah kekuatan yang mengikat sehingga minat baca yang diusahakan oleh orang tua baik yang berupa ajakan atau dicontohkan dapat mengena pada anak. Sesuai dengan pendapat ini maka orang tua dapat memulai dengan membacakan dongeng ketika anak masih kecil karena dengan membacakan dongeng akan ada keterikatan secara emosional yang cukup lekat pada memori anak. Kemudian orang tua juga memberi contoh dengan sering membaca buku di rumah dan menjadi orang tua yang pembelajar.
Apa maksudnya orang tua pembelajar? Orang tua pembelajar dalam hal ini dapat diartikan sebagai orang tua yang sering membaca buku dan mempraktekkan apa yang dibaca untuk berkomunikasi dengan anak. Misalnya adalah dalam berkomunikasi dengan anak ketika mengingatkan sesuatu tidak dengan bahasa yang singkat “tidak boleh”, namun juga menerangkan kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan dengan referensi bacaan yang telah dibaca orang tua. Anak menjadi tahu persis kenapa hal ini dilarang atau salah sekaligus menambah perbendaharaan keilmuan anak hasil dari buku yang telah dibaca orang tua.
Orang tua yang ingin anaknya maju mau tidak mau harus mendorong untuk anak mau membaca tentang berbagai hal. Perlu digaris bawahi bahwa konten buku yang dibaca anak tidak hanya tentang ilmu pengetahuan namun juga buku cerita atau komik yang tentunya telah disortir disesuaikan dengan usia anak dan norma-norma yang berlaku baik secara agama ataupun budaya. Memang membawa anak ke alam buku pada era ini tidak mudah dengan gempuran visual baik dari internet maupun televisi. Namun dengan komunikasi dan contoh yang baik dari orang tua disertai bimbingan yang tak kenal lelah maka anak dapat sedikit demi sedikit bisa menikmati keseruan berimajinasi ketika membaca yang nantinya meningkatkan minat bacanya.
Trik dan kreatifitas orang tua dalam mengajak anak gemar membaca tentunya bisa berbeda antara keluarga yang satu dengan yang lain. Namun pada intinya gemar membaca pada anak sama sekali tidak disarankan dengan metode pemaksaan karena hanya akan mengakibatkan trauma pada anak bahwa membaca itu menakutkan. Apabila ada waktu luang ajak juga anak ke Perpustakaan Daerah atau perpustakaan yang terdekat dengan rumah. Mungkin juga anak di ajak ke toko buku untuk bisa memilih buku sendiri yang mereka senangi. Atau dapat juga membuat perpustakaan kecil atau perpustakaan pribadi di rumah untuk mendekatkan anak dengan buku.
Mewujudkan masyarakat gemar membaca sangat bergantung dari lingkup kelompok masyarakat terkecil yaitu keluarga. Jika dalam setiap keluarga di Indonesia sudah mulai berpikir pentingnya membaca bagi anggota keluarga mereka tentunya akan berimbas kepada kenaikan minat baca masyarakat secara keseluruhan. Diperlukan peningkatan peran orang tua dalam usaha membawa masyarakat dari era minat baca memasuki era budaya baca. Anak-anak kita adalah harapan bangsa ke depan, untuk itu kita harus membekali mereka dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai. Sebagai penutup, mari buka buku baca dan anda bisa..!
Penulis: Dwi Putranto Bimo Sasongko, S.Sos. MM
Pustakawan di Dinas Arpusda Kabupaten Wonosobo